Umi Rohaini: Sembuh Syaraf Kejepit di KPPI 1993 dan Jantung di KPPI 25 Jan 2018

Ibu ini mengalami mujizat untuk dua sakit yang berbeda di KPPI Jakarta pada tahun 1993 dan tahun 2018.

Kesembuhan pertama dialami pada tahun 1993, yaitu disembuhkan dari sakit syaraf kejepit. Diawali  sekitar tahun 1991 ia jatuh terduduk saat sedang mencuci. Ia kembali jatuh terduduk saat sedang menggendong anak.  Di situlah mulai merasa sakit tapi kondisi paling parah adalah pada tahun 1993 dimana ia akan selalu merasa sangat kesakitan bila duduk sebentar saja atau berdiri sebentar saja. Bahkan ia tidak lagi dapat melangkahkan kakinya, karena jadi kaku dan terasa berat.  Akibatnya ia tidak dapat berjalan dan harus digendong. Ia tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya bisa berbaring.   Keadaan ini berlangsung selama 3 bulan. Ia sangat terpukul, sedih dan sempat putus asa. 

Dokter menyatakan bahwa dia terkena syaraf kejepit. Alternatif yang ditawarkan Dokter adalah dioperasi. tapi kemungkinannya 50 persen sembuh atau 50 persen akan lumpuh dengan biaya operasi yang cukup mahal. Karena tidak dijamin sembuh ia memilih  tidak dioperasi dan rawat jalan.

Ia menjalani terapi sebanyak 10 paket. Per paket ada 6 kali terapi dan kontrol ke dokter dua kali seminggu. Hari-hari dijalani dengan hanya  berdoa mohon kesembuhan dari Tuhan. Saat itu dia banyak didoakan jemaat di gerejanya. Juga tim KPPI yang setia datang mendoakannya.

Saat diajak untuk didoakan di KPPI dia menyambut dengan antusias meskipun dia menyadari bahwa dia memerlukan perjuangan yang tidak mudah mengingat perjalanan yang cukup lama dan panjang. Tapi dia bertekad untuk datang agar didoakan. Ia mengharapkan mujizat kesembuhan dari Tuhan. Pertama kali ia datang ke KPPI ia sangat bersukacita dan imannya dibangkitkan untuk menerima kesembuhan. Kedatangan ke dua semakin membuatnya bertambah bersemangat karena melihat begitu banyak yang disembuhkan Tuhan. Tapi ia masih belum melihat perubahan pada sakitnya. Ia tidak kecil hati dan tetap setia datang ke KPPI. Pada kedatangan yang ke tiga, saat di tengah puji-pujian, ia memandang sekelilingnya, semua nampak sangat bersemangat memuji Tuhan. Ia rindu sekali bisa berdiri seperti mereka memuji Tuhan. Tanpa berpikir panjang ia pun mulai berdiri dan ia merasakan kesembuhan. Ia mulai bisa berdiri tanpa rasa sakit. Seluruh rasa sakitnya hilang.  

Tiba-tiba didengarnya hamba Tuhan di mimbar mengatakan bahwa ada seorang ibu yang disembuhkan pada saat puji-pujin dan bertanya siapakah ibu itu. Ia sempat menunggu apakah ada yang akan mengangkat tangannya, tapi tidak ada yang menjawab. Tahulah dia bahwa yang dimaksud adalah dirinya. Ia pun mengangkat tangan dan menyaksikan kesembuhan yang dialaminya. 

Sejak saat itu ia dapat berjalan dengan normal tanpa rasa sakit. Ketika kontrol lagi ke dokter, dokter menyatakan kondisinya sudah baik dan pulih. Ia memutuskan untuk berhenti terapi yang telah dijalaninya sekitar 4 paket.  Sampai hari ini kondisinya masih sehat dan tidak lagi ada keluhan. 

Mujizat kesembuhan yang kedua dialaminya pada tahun 2018 dari sakit jantung.   Selama 3 bulan ia merasakan sesak dan setelah diperiksakan ke dokter maka dinyatakan ada permasalahan pada klep jantung, karena lemak. Hal itu dikarenakan kurang berolah raga. Pada saat hadir ke KPPI pada tanggal 25 Januari 2018 dia sedang dalam kondisi sesak. Tapi setelah didoakan ia merasakan kelegaan dan sesaknya hilang.  Tuhan sudah melakukan mujizat. Haleluya. Terpujilah Tuhan.

SHARE