Pada tanggal 12 Juli 1999, saya berada di rumah teman saya  di Bandung. Saya begitu letih sehabis mengendarai mobil dengan jarak yang begitu jauh (saya dalam perjalanan dari Jogya menuju Jakarta, singgah dulu ke Bandung). Tiba-tiba saya  muntah-muntah dan langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri (tekanan darah tinggi dengan tensi 178/120, yang sebelumnya belum pernah saya alami). Melihat keadaan saya, keluarga saya menjadi shock dan panik, lalu saya di bawa ke RS Advent di Bandung ke bagian IGD. Kondisi saya dalam keadaan kritis dan tanda detak jantung di komputer sudah lurus.  Dokter langsung memberikan pertolongan dengan alat pengejut jantung untuk memompa detak jantung saya yang sempat berhenti sampai 3 kali. Ini terjadi karena tekanan darah saya tinggi yang menyebabkan stroke dimana pembuluh darah di otak pecah. Tetapi berkat pertolongan Tuhan, maka jantung saya dapat kembali berdetak dengan normal.

Dalam keadaan koma, saya langsung dipindahkan ke bagian ICU, dilakukan CT Scan, diketahui pembuluh darah (sub-arenoid) sebelah otak kanan saya pecah. Selama 4 hari saya tidak sadarkan diri. Melalui doa-doa keluarga dan sahabat saya, keadaan saya semakin membaik, ini adalah suatu mujizat saya tidak mengalami kelumpuhan/cacat. Efek dari pembuluh darah yang pecah sebelah otak kanan ini mengakibatkan sebagian gumpalan darah beku ada di retina mata kanan saya, sehingga jika saya melihat lurus ke depan saya tidak dapat melihat sama sekali/gelap. Tetapi kalau saya melihat ke arah samping kiri atau kanan, saya bisa melihat sedikit. Mata yang tidak dapat melihat hanya disebelah mata kanan.

Saya dirawat inap selama 18 hari di RS tersebut, saya dibawa pulang ke Jakarta atas ijin dokter. Tiba di rumah saya dalam keadaan pingsan, tubuh saya benar-benar lemah, keadaan saya belum pulih benar. Sebenarnya resiko pecahnya kembali pembuluh di otak saya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu saudara saya menyarankan untuk beristirahat di rumah selama 1 minggu, baru setelah kondisi saya membaik saya di bawa ke RS Cikini.

Di RS Cikini saya bertemu dengan seorang hamba Tuhan yang mengunjungi saya beberapa kali dan memberitakan bahwa Yesus sanggup menyembuhkan dan memulihkan  penyakit saya. Saya diajak untuk hadir dalam KPPI, karena keadaan saya tidak memungkinkan untuk hadir, dokter tidak mengijinkan sebab kondisi saya tidak dapat duduk. Jika saya duduk, resiko pecahnya pembuluh darah di otak saya dapat terjadi kembali.

Pada bulan November’99 saya datang ke KPPI dalam kondisi saya sudah dapat duduk, walaupun mata saya belum dapat melihat. Saya percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi saya. Saya terus berharap kepada Tuhan. Saya pasti sembuh.

Ketika doa kesembuhan saya maju dan didoakan, saya merasakan ada sesuatu di mata saya.  Puji Tuhan ! Saya dapat melihat. Sepulang dari kebaktian saya langsung membaca alkitab.

Setelah semua kejadian yang saya alami ini, saya rindu untuk melayani Tuhan dan sering bermimpi sedang mendoakan orang mati dan orang mati itu bangkit. Beberapa minggu kemudian saya didatangi hamba Tuhan untuk mengkonfirmasikan kesaksian saya yang akan dipublikasikan dan saya juga menceritakan mengenai mimpi saya tersebut. Lalu hamba Tuhan tersebut mengajak saya untuk ikut HMC, saya percaya bahwa ini merupakan jawaban dari Tuhan.

Sampai dengan tanggal 17 Juli 2003 kesembuhan ini masih tetap berlangsung.

Related Posts