Pada bulan Desember 2001, secara tiba-tiba saya terserang demam yang sangat tinggi dan
kondisi tubuh saya terasa lemas. Tak lama kemudian, timbul bintik-bintik merah dalam jumlah yang banyak di sekujur tubuh saya. Saya segera memeriksakan diri ke salah satu RS di Menado. Menurut diagnosa dokter, saya terkena sakit demam berdarah. Setelah berobat, kondisi saya justru semakin memburuk. Kondisi tubuh saya semakin hari semakin melemah dan lemas. Saya tidak dapat berjalan dengan baik, bahkan ke kamar mandipun saya harus dituntun oleh istri saya, karena saya merasa pusing jika berdiri.

Pada bulan Maret 2002, karena kondisi yang semakin mengkuatirkan, saya kembali ke rumah sakit. Dokter menganjurkan saya untuk dirawat inap dan menjalani beberapa pemeriksaan yang lebih intensif. Hasil test darah menunjukkan, bahwa jumlah trombosit saya hanya 9.000. Sedangkan, jumlah trombosit yang normal untuk laki-laki dewasa adalah antara 150.000 – 440.000. Secara ilmu kedokteran, dengan jumlah trombosit yang sangat rendah ini, saya sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun.

Setiap hari, saya harus di infus dan di transfusi darah merah dan darah putih. Keadaan saya semakin lama semakin bertambah parah, karena setiap kali saya membungkukkan badan atau menundukkan kepala, maka keluarlah darah segar dari mulut dan gusi saya.
Saya sangat terkejut pada saat dokter memberitahukan kepada saya bahwa saya menderita penyakit kanker darah stadium 3 !

Saya harus menjalani perawatan selama empat puluh hari. Kemudian, karena peralatan di rumah sakit ini kurang lengkap, akhirnya saya dipindahkan ke sebuah RS di Jakarta.

Pada bulan Juli 2002, saya mulai dirawat di salah satu RS di Jakarta. Dokter memberikan pengobatan syrostatica ( pemberian obat melalui infus ) selama delapan hari berturut-turut. Ada dua paket obat yang dipakai, yaitu paket A dan paket B, dimana harga per paket masing-masing Rp. 3.000.000,-. Satu paket bisa digunakan untuk satu setengah hari.
Efek sampingan yang ditimbulkan dari obat paket A ini adalah rambut saya menjadi rontok, sehingga kepala saya menjadi botak. Setelah itu, dokter memberi saya obat paket B untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Selama dirawat di RS, saya telah ditransfusi 60 kantung darah putih, 160 kantung darah merah dan 30 kantung plasma darah. Berat badan saya turun secara drastis dari 76 kg menjadi 56 kg, karena saya sering merasa mual dan tidak napsu makan.

Saya sangat menderita. Saya mulai menyadari bahwa saya membutuhkan mujizat kesembuhan dari Tuhan. Sejak saat itu, saya mulai rajin berdoa dan berharap pada pertolongan Tuhan.

Pada akhir Juli 2002, seorang hamba Tuhan datang ke “ruang isolasi” dimana saya berada. Saya dilayani oleh Hamba Tuhan tersebut dan juga diundang ke acara Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi (KPPI).

Pada tanggal 8 Agustus 2002, istri saya datang ke KPPI sebagai perwakilan bagi saya karena kondisi fisik saya yang masih lemah sehingga saya tidak dapat datang.

Pulang dari KPPI, dia bercerita dengan sangat antusias, “Ketika saya sedang berdoa untuk kesembuhan kamu di acara KPPI tersebut, saya melihat sesuatu seperti darah yang kotor keluar dari tubuhmu.”

Beberapa hari setelah didoakan di KPPI itu, kondisi kesehatan saya mengalami perubahan yang sangat luar biasa seperti yang dinyatakan oleh dokter berikut ini :
1. Trombosit saya waktu pertama kali dirawat di RS adalah 71.000, tetapi sekarang lebih dari 300.000. Normalnya 150.000 – 440.000. Trombosit saya sudah normal.
2. Lekosit saya waktu pertama kali dirawat adalah 42.000. Sekarang, menjadi 4.200 dan terus meningkat secara perlahan-lahan menuju ukuran yang normal, yaitu 5.000 – 10.000.
3. Haemoglobin (HB) saya yang tadinya 9,5 sekarang menjadi 11,6 dan terus meningkat secara perlahan-lahan menuju HB normal untuk pria, yaitu 13,5 – 17,5.
Selain itu, sekarang, saya pun sudah dapat berdiri lama tanpa merasa pusing.
Pada hari Kamis, tanggal 22 Agustus 2002, saya datang ke KPPI untuk memberi kesaksian atas mujizat kesembuhan yang saya alami. Pada saat pujian-pujian, saya merasakan iman saya dibangkitkan. Pada saat Firman Tuhan diberitakan, saya merasa FirmanNya sungguh-sungguh menyentuh hati saya. Puji Tuhan ! Saya sangat bersyukur dan bangga memiliki Allah yang ajaib. Saya mengunjungi pasien-pasien lain di RS tersebut dengan bersemangat untuk menceritakan pekerjaan Tuhan Yesus dalam hidup saya dan kuasa mujizat kesembuhan yang sudah saya alami. Saya rindu saudara-saudara saya yang lain yang sedang terbaring sakit disembuhkan Tuhan dalam acara KPPI ini. Saya betul-betul mau melayani Tuhan dalam sisa hidup saya sesuai dengan ayat firman Tuhan dalam II Timotius 4 yang dinyatakan melalui mimpi kepada saya.

Sampai dengan hari ini, kesembuhan itu masih terus berlangsung. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Yesus untuk selama-lamanya. Amin.

Puji Tuhan!
HMS – Jabodetabek

Related Posts