Pada bulan Februari 2002, saya terjatuh dari tempat tidur. Beberapa hari kemudian, saya terpeleset dari tangga rumah dan mengenai tulang ekor saya. Saat itu, daerah tempat tinggal saya sedang dilanda banjir sehingga tangga rumah menjadi licin. Karena kurang berhati-hati, saya terpeleset dari tangga rumah saya.

Empat hari kemudian, tubuh saya demam. Atas usulan ketua RT, saya dibawa ke Posko banjir yang didirikan untuk melayani masyarakat di wilayah saya yang terserang sakit penyakit akibat banjir. Dokter disana mengatakan, bahwa saya hanya mengalami demam biasa dan beliau memberikan obat penurun panas. Tetapi, penyakit saya tidak mengalami kesembuhan.

Satu minggu kemudian, saya masih tetap demam. Bahkan, seluruh tubuh mulai terasa lemas. Saya dibawa ke dokter dan beliau menduga, bahwa saya terkena virus tulang.

Semakin lama, kondisi saya semakin parah. Saya tidak dapat menggerakkan seluruh tubuh saya, tidak dapat duduk, berdiri dan mengangkat tangan. Makan harus disuapi, karena tangan saya begitu lemah dan tidak berdaya. Saya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kalau saya ke kamar mandi, saya harus dipapah oleh 3 orang sekaligus. Saya sangat menderita, karena saya tidak dapat melakukan apa-apa.

Akhirnya, saya dibawa ke RS pada bulan Maret 2002 dan harus di opname. Ada 2 dokter yang menangani saya pada saat itu, yaitu seorang dokter spesialis syaraf dan seorang psikolog. Berdasarkan hasil rontgen, tidak diketemukan kelainan apapun pada tubuh saya.

Selama 1 bulan 3 minggu dirawat di RS, saya menghabiskan ± 60 botol infus dan saya harus minum obat neovamin secara rutin. Selain itu, saya harus menjalani fisioterapi setiap hari (kecuali hari Minggu). Tetapi, usaha-usaha pengobatan ini tidak membuahkan hasil yang maksimal. Saya hanya dapat menggerakkan jari-jari saya saja.

Melihat perkembangan yang tidak berarti, dokter yang menangani saya menyarankan saya ke klinik Ahli Syaraf di Jln Pemuda. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata, saya mengalami penyempitan urat syaraf yang kemungkinan disebabkan karena benturan pada tulang ekor saya pada awal Februari 2002 yang lalu.

Pada 10 Oktober 2002, saya datang ke KPPI dengan kondisi tidak dapat berdiri dan berjalan. Turun dari mobil, saya harus didudukkan di kursi dan kursi itu diangkat oleh beberapa orang counsellor ke dalam ruang kebaktian. Selama kebaktian berlangsung, iman saya dibangkitkan melalui puji-pujian dan penyembahan yang dinaikkan dan pemutaran film kesaksian kesembuhan. Apalagi, ketika saya melihat dan mendengar ada yang disembuhkan pada saat puji-pujian, iman saya semakin dikuatkan. Pada saat itulah, saya merasakan suatu aliran yang hangat mengalir di dalam tubuh saya, sekalipun kesembuhan belum ter-manifestasi !

Saya datang lagi ke KPPI untuk ke 2 x nya pada 24 Oktober 2002. Pada saat inilah, mujizat kesembuhan mulai terjadi. Dengan iman, saya mencoba berdiri dari tempat duduk saya dan puji Tuhan ?. Saya dapat melakukannya sendiri. Sebelumnya, saya harus dibantu oleh beberapa orang untuk dapat berdiri dengan cara menarik ke 2 tangan saya dan mengangkat bagian belakang tubuh saya. Haleluya ! Saya pun telah dapat mengangkat ke 2 tangan saya yang semula lemas dan tidak berdaya.

Pada 14 November 2002, saya datang lagi ke KPPI. Saya mencoba berjalan dengan iman, walaupun masih tertatih-tatih. Di rumah, saya mempraktekkan segala sesuatu yang diajarkan di KPPI : saya mencoba berjalan, walaupun harus berpegangan pada dinding rumah. Pada 28 November 2002, saya sudah dapat berjalan normal. Haleluya !

Setelah itu, saya masih setia datang ke KPPI. Kesembuhan yang saya alami terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sekarang saya sudah dapat naik sepeda, menyapu, mencuci piring, dan lain-lain.

Pada tanggal 17 Maret 2003, saya kembali ke RS untuk menemui dokter-dokter

yang pernah merawat saya dulu. Mereka kaget, heran dan tercengang melihat saya. 1 tahun yang lalu, saya lumpuh, tidak bisa duduk, berdiri, berjalan dan mengangkat tangan. Sekarang, saya sudah dapat naik tangga dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan seperti orang normal. Segala kemuliaan bagi Tuhan !

Sampai dengan hari ini, kesembuhan itu masih terus berlangsung.