Adakah yang mustahil bagi Allah yang luar biasa itu? Semua hal yang mustahil dan tidak mungkin bagi manusia dikerjakan oleh Allah kita yang luar biasa untuk kemuliaan nama-Nya.
Berikut ini adalah kesaksian dari seorang ibu yang disembuhkan Tuhan Yesus dari sakit pada pinggang kanan yang telah dideritanya selama tiga bulan :

Saya mempunyai seorang anak. Setelah saya pensiun dari pekerjaan saya sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, saya bekerja sebagai asisten seorang dokter yang membuka praktek di dekat rumah saya sampai saat ini.

Pertengahan tahun 1980, sekitar jam 15.00 WIB, hujan turun sangat deras sekali. Saya tersentak dan langsung bangun dari tidur dengan kondisi masih mengantuk. Saya menuju ke kamar mandi dan naik tangga yang terletak di kamar mandi untuk menutup pintu yang menghubungkan kamar mandi dengan tempat jemuran pakaian yang terletak di atas kamar mandi, karena saya takut air hujan masuk ke kamar mandi. Ketika menuruni tangga, saya terpeleset dan jatuh. Kepala saya terbentur bak kamar mandi, sehingga kepala saya bocor dan mengeluarkan banyak darah. Saya bersandar ke tembok dan tidak sadarkan diri selama ± 10 menit. Setelah sadarkan diri, saya berdiri perlahan-lahan, lalu berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke ruang tamu dan merebahkan diri di sofa. Di lantai berceceran darah dari kepala saya yang bocor. Saat itu, pintu di ruang tamu tidak terkunci. Tiba-tiba, keponakan saya datang. Ketika melihat kepala saya penuh darah, ia kaget sekali dan dengan spontan ia berteriak, “Tante, kenapa ? Siapa yang bacok ?” Ia segera memanggil tetangga saya untuk membantu mengangkat tubuh saya dan membawa saya ke rumah sakit.

Sesampai di RS, saya langsung dibawa ke ruang gawat darurat [UGD] dan diperiksa. Dokter menjahit luka di kepala saya yang bocor sebanyak 5 jahitan. Setelah itu, saya dipindahkan ke ruang rawat inap. Sekitar jam 19.00 WIB, ketika saya sedang memandang ke langit-langit kamar RS, tiba-tiba, saya melihat Tuhan Yesus memakai jubah putih sedang memandang saya dengan penuh kasih. Tak lama kemudian, wajah Tuhan Yesus menghilang.

Satu hari setelah dirawat inap, pinggang kanan saya terasa sakit. Dokter yang memeriksa saya memberikan surat rujukan ke dokter ahli tulang. Dokter itu langsung meminta agar kepala dan pinggang saya dirontgen. Hasil rontgen menunjukkan bahwa tulang pinggang kanan saya retak. Saya berpikir, mungkin ini efek dari jatuhnya saya dari tangga. Dokter menyarankan saya untuk memakai korset yang terbuat dari kain, tetapi di bagian belakangnya lebih keras dan kaku supaya tulang pinggang saya tidak bergerak. Saya harus memakai korset tersebut setiap hari selama 3 bulan berturut-turut. Selain itu, dokter melarang saya untuk melakukan banyak gerakan. Pada saat tidur, saya tidak boleh memakai bantal guling dan posisi tubuh saya harus tegak, tidak boleh miring. Setelah dirawat selama satu bulan di RS, saya diperbolehkan pulang ke rumah.

Tiga bulan kemudian, yaitu pada awal tahun 1981, saya kontrol lagi ke dokter spesialis tulang itu dan saya disarankan untuk menjalani rontgen. Dari hasil rontgen diketahui bahwa tulang pinggang kanan saya sudah sembuh dan saya tidak perlu lagi menggunakan korset.

Pada minggu ke tiga bulan Desember 2004, tiba-tiba, pinggang saya terasa sakit sekali yang menyebabkan saya harus duduk, membaringkan badan dan bangun dari tempat tidur secara perlahan-lahan. Setiap hari, saya harus menanggung rasa sakit ini. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kecuali berdoa dan pasrah pada Tuhan.

Pada suatu hari, saya diajak oleh ibu Elisabeth, tetangga saya yang juga murid PWC ke KPPI. Saya datang ke KPPI dalam keadaan susah untuk berjalan dan harus membungkuk, karena menahan rasa sakit pada pinggang kanan saya. Ketika memasuki ruangan kebaktian, saya merasakan sukacita karena saya ingin sembuh. Pada saat lagu “Indah RencanaMu, Tuhan” dinyanyikan, saya menangis karena lagu tersebut sangat berkesan dalam hati saya. Tak lama kemudian, ketika hamba Tuhan berkata, “Siapa yang sakit pinggang, maju ke depan !”, maka saya maju ke depan. Hamba Tuhan itu meminta saya untuk memegang bagian tubuh saya yang sakit. Setelah didoakan, pinggang kanan saya tidak terasa sakit lagi. Puji Tuhan ! Saya telah sembuh. Haleluya !

Saya sangat bersyukur atas mujizat kesembuhan yang terjadi pada saya. Saya telah menyaksikan kesembuhan tersebut kepada keluarga, saudara dan kenalan saya.

Puji Tuhan!
HMS – Jabodetabek