Saya tinggal bersama suami dan 2 orang anak di Jayapura. Sejak tahun 1981, saat saya berusia 6 tahun, saya sering mengeluh sakit pada dada saya kepada orang tua saya.

Pada tahun 1986, ketika saya duduk di kelas 5 SD [Sekolah Dasar], saya sering merasakan sesak napas dan sakit pada dada saya, jantung saya berdebar-debar dengan sangat keras dan keringat dingin mengalir di sekujur tubuh saya. Tubuh saya terasa lemas. Bahkan, ketika saya sedang mengikuti pelajaran di sekolah, tiba-tiba, saya berkeringat dingin dan muka saya menjadi pucat. Saya merasakan sakit yang sangat pada dada kiri saya. Jantung saya berdebar-debar dengan sangat hebatnya. Karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi, maka saya pun berlari pulang tanpa sempat meminta izin pada guru saya. Tiba di rumah, saya segera memeluk ibu saya dan berkata : “Saya tidak dapat bemapas.” Saya diberi minum air hangat, tak lama kemudian debar-debar di jantung saya mulai berkurang.

Orang tua saya pernah membawa saya ke klinik terdekat. Di klinik ini, saya diberi 3 jenis obat dan sirup untuk menghilangkan rasa sakit. Saya minum obat ini, tetapi tidak ada perubahan.

Pada tahun 1986, saya dibawa ke RS di Papua. Di RS ini, dada saya di rontgen dan saya menjalani rekam jantung. Dari hasil tes ini, dokter menemukan bahwa ada kebocoranpada jantung saya sebesar lubang jarum. Dokter menyarankan saya untuk di rawat inap dan saya dianjurkan untuk menangani penyakit ini sejak dini sebelum lubang itu semakin besar dan bertambah banyak. Saya dirawat inap di RS ini selama 3 hari. Sepulang saya dari RS, penyakit jantung saya kembali kambuh. Setiap kali saya kecapekan, maka sakitjantung saya selalu kambuh. Begitu juga di sekolah, jika saya melakukan banyak kegiatan, maka penyakit saya akan kambuh karena kecapekan.

Akibat penyakit jantung yang saya derita ini, maka saya mengalami banyak keterbatasan dalam melakukan segala aktivitas saya sehari-hari. Saya tidak boleh kecapekan sama sekali. Dari kelas V SD sampai dengan SMU, saya telah lebih dari 10 x keluar masuk RS.

Saya hanya pasrah dengan keadaan yang saya alami. Saya hanya bisa berdoa, meminta pertolongan Tuhan sambil minum obat-obatan ramuan tradisional yang dibuat oleh keluarga saya, berupa benalu yang sudah diiris tipis, dijemur sampai kering dan diminum seperti minum air teh yang berguna untuk mengurangi jantung saya yang berdebar-debar kencang. Keadaan ini terus berlanjut sampai saya menikah pada tahun 1996. Penyakit jantung saya masih terus kambuh.

Setelah menikah, saya sempat dirawat kembali di RS di Papua. Kali ini, dokter menyarankan agar jantung saya di operasi, karena kebocoran yang saya alami semakin parah. Saya menolak untuk dioperasi, karena saya takut. Saat itu, karena stres, kondisi fisik saya menjadi tidak menentu. Tensi darah saya naik turun, sehingga dokter pun tidak berani mengambil tindakan lebih lanjut. Dokter hanya menyarankan saya untuk menjalani pengobatan lebih intensif di Jakarta.

Pada tanggal 02 Maret 2004, saya menjalani rontgen terakhir di Papua sebelum berangkat ke Jakarta.Pada tanggal 14 Maret 2004, saya dan suami saya pindah ke Jakarta, karena suami sayameneruskan kuliah di UI Depok. Setiba di Jakarta, kami mengontrak rumah di daerah Depok. Sakit jantung saya sering kambuh secara mendadak, karena kecapekan melakukan aktivitas pekerjaan rumah tangga. Setiap kali sakit jantung saya kambuh,maka saya hanya mengatasinya dengan berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan.

Pada tanggal 25 Maret 2004, saya diajak oleh ipar saya yang tinggal dekat dengan saya,ke KPPI. Ketika memasuki gedung dan mendengar musik yang keras, tiba-tiba, jantungsaya berdebar-debar, kepala saya pusing dan perut saya mual. Apalagi, saat itu saya duduk di dekat speaker. Ketika ibu pendeta menanyakan : “Siapa diantara Saudara yang sakit sejak kecil ?”….. maka, saya langsung mengangkat tangan. Saat didoakan oleh hamba Tuhan di KPPI, saya merasakan kelegaan dan dapat bernapas dengan baik. Saya telah disembuhkan Tuhan Yesus. Puji Tuhan. . . ..!

Setelah saya sampai di rumah, penyakit saya kambuh kembali. Bahkan, lebih parah darisebelumnya. Tetapi, pada saat itu, saya berkata dengan iman yang teguh : “Dalam nama Yesus, saya percaya penyakit saya sudah sembuh. Saya punya tubuh bukan tempat berdiam penyakit, tapi untuk tempat berdiam Roh Allah. Saya sudah terima kesembuhan dari Allah, saya tidak punya sakit lagi.” Setelah berkata demikian, saya kembali merasa tenang, lalu masuk ke kamar dan tidur.

Tuhan itu sungguh baik bagi saya. Ketika saya mengikuti KPPi di Jakarta, sakit saya disembuhkan secara total. Sekarang, saya sudah dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga, makan dengan normal, tubuh tidak lagi berkerlngat dlngln, saya sudah dapat berjalan jauh. Haleluya…..! Saya sungguh sangat bersyukurkepadaTuhan..Tuhan telah menyembuhkan saya. Saya rindu melayani Tuhan melalul HMC (Healing Ministry Course).