Petrus Harianto Simbolon – Sembuh dari Radang Otak

Saya adalah Ibu Marta, ibu dari Petrus Harianto Simbolon (11 bulan). Saya hendak menyaksikan kesembuhan yang dialami oleh anak saya, Petrus yang disembuhkan Tuhan Yesus dari sakit radang otak akibat virus herpes.

Pada tahun 2003, Petrus telah lahir sebagai anak laki-laki kami satu-satunya dan ia lahir sebagai bayi yang sehat dan normal dengan berat badan 3,9 kg. Saat ia berumur 1 ½ bulan ketika saya sedang memberi minum susu di botol, tiba-tiba ia pingsan tanpa ada gejala-gejala yang menunjukkan bahwa dia sedang sakit. Saya sangat panik dan langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat di kota Bandung pada tanggal 17 Juli 2003.

Oleh dokter, anak saya disuntik dan diinfus tetapi tidak ada perubahan apapun. Dokter mengatakan bahwa ia telah berusaha agar Petrus sadar dari pingsannya, sekalipun jantungnya sudah dipompa tetap tidak dapat  berdetak dengan normal. Untuk pertama kalinya anak saya dirawat di Rumah Sakit selama 1 bulan dalam keadaan koma.
Setelah sebulan di Rumah Sakit, anak saya tidak mengalami perubahan, maka saya memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah dengan rasa putus asa. Dokter tidak dapat berbuat apa-apa dan mengijinkan saya membawanya pulang ke rumah.

Pada 17 Agustus 2003, saat ia di rumah tiba-tiba napas Petrus mendadak berhenti dan jantungnya saya rasakan tidak berdetak. Saya sangat terkejut karena saya tidak siap menghadapi kenyataan bahwa anak saya satu-satunya akan meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Saya segera berdoa dan berseru kepada Tuhan Yesus memohon pertolongan-Nya untuk anak saya. Namun demikian tidak terjadi perubahan apa-apa, anak saya, Petrus tubuhnya terbujur kaku dalam pelukan saya, saat itu waktu menunjukkan Pk. 02.00 WIB dini hari. Saya hanya bisa menangis dan menangis pada Tuhan semalam-malaman, lalu saya disuntik obat penenang.

Ketika anak saya sedang dipersiapkan penguburan dengan adat Batak yang begitu lama, saya sadar. Kemudian saya mendekati, mengambil anak saya lalu mendekapnya, dan saya tiba-tiba dapat merasakan anak saya bisa bernapas kembali. Saya berkata kepada orang-orang yang ada di sekitar anak saya bahwa anak saya masih bernapas, tapi tanggapan mereka kepada saya malah lain, ada yang berkata : “Ibunya itu yang stress……. Ibunya yang gila…….!”Tidak ada seorangpun yang mempercayai kata-kata saya. Lalu saya menunjukkan Petrus kepada bibi saya kemudian dia berkata : ”Ya, kita tunggu dulu selama 1 jam. Setelah 1 jam berlalu, anak saya benar-benar dapat bernapas, saya bersama anak saya dibawa ke Rumah Sakit Barmeus  dengan beberapa orang yang berpakaian serba hitam sebagai tanda berkabung sebanyak 5 mobil. Di RS, orang-orang mendekati saya yang memangku dan mengendong anak saya, bertanya ada apa ini, kok semuanya memakai baju hitam begitu juga dengan ibunya.

Saya melihat tubuh anak saya kaku dan tidak bergerak sama sekali, hanya napasnya yang sesekali. Dokter menjelaskan ia hanya dapat bernapas dengan alat bantu pompa jantung. Saat itu ia hanya diberi vitamin karena dokter belum dapat menemukan penyakit apa yang menyerang anak saya.
Pada bulan September 2003, Petrus dirawat kembali di Rumah Sakit untuk ketiga kalinya. Di sana dokter tidak menemukan penyebab sakit yang dialami anak saya. Selama 3 minggu dirawat, ia tidak mengalami perubahan apapun, tetap kaku dan tidak dapat bergerak dengan leluasa.

Kemudian saya membawanya ke Rumah Sakit yang lain untuk ke-empat kalinya yaitu sekitar bulan Oktober 2003. Ia diperiksa oleh team dokter dan menjalani CT Scan. Hasil CT Scan mengatakan bahwa di bagian otak anak saya Petrus ada virus herpes. Virus herpes inilah yang menyerang susunan syaraf pada otaknya sehingga tubuhnya menjadi kaku tidak bisa bergerak, tidak dapat merespon apapun terhadap hal-hal yang dari luar dan terjadi kelemahan pada beberapa fungsi tubuh contohnya : setiap makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya selalu dimuntahkan dan  seringkali ngompol bisa sampai 15 kali dalam sehari, selalu dalam keadaan tidur.
Pada saat itu dokter  mengatakan bahwa selama 1 minggu dirawat di RS ini anak saya tidak ada perubahan dan diperkirakan umur anak saya tinggal seminggu lagi, oleh sebab itu saya membawanya pulang ke rumah.

Saya pulang ke rumah dengan berharap penuh kepada Tuhan yang sanggup menolong anak saya untuk menyembuhkannya. Saya teringat bahwa anak saya sempat meninggal tetapi Tuhan telah menghidupkannya lagi, maka saya percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan anak saya !

Pada tanggal 7 April 2004, dalam perjalanan pulang berobat anak saya dari rumah sakit, saya naik angkot, saya dalam keadaan bengong sebab memikirkan bagaimana nasib anak saya. Saat itu seperti ada seorang pemuda yang melemparkan beberapa selebaran ke dalam angkot dan tepat didepan saya duduk. Saya segera mengambilnya dan membaca selebaran tersebut, ternyata undangan Kebaktian Kesembuhan yang diadakan di Bandung Trade Center (BTC) pada tanggal 9 April 2004. Setelah membaca selebaran itu saya melihat ke arah pemuda itu lalu selebaran tersebut saya masukkan ke dalam tas. Saya memutuskan untuk datang ke acara tersebut sambil membawa anak saya.

9 April 2004, saya datang ke acara Kebaktian Kesembuhan tersebut sambil saya bertanya-tanya kepada tetangga saya dimana letak BTC (Bandung Trade Center) karena saya tidak tahu dimana lokasi gedung tersebut. Kemudian saya disarankan untuk naik angkot jurusan Jati. Saya bertanya kepada salah seorang sopir angkot dan saya diantar ke BTC sendiri, tidak ada penumpang yang lain. Ketika sampai di Gedung BTC saya langsung menghampiri Petugas Satpam menunjukkan undangan tersebut lalu kami diantar ke lantai 6, tempat dimana diadakan Kebaktian Kesembuhan.

Pada saat puji-pujian, saya benar-benar mengarahkan hati dan pikiran saya kepada Tuhan serta mohon supaya anak saya disembuhkan. Ditengah-tengah puji-pujian, tiba-tiba anak saya menangis sekencang-kencangnya bahkan saya tidak menyadarinya karena saya terpaku pada pujian tersebut. Lalu orang-orang yang ada disekitar saya mendekati saya dan berkata agar anak saya diberi minum supaya tidak menangis. Seketika itu saya baru menyadari bahwa Petrus telah dapat menangis dan menggerakkan tangannya berulang kali.
Saya sangat terkejut karena setelah 7 bulan saya menggendongnya kaku, tidak bisa bergerak-gerak. Tiba-tiba ada suatu gerakan yang dapat saya rasakan di tubuhnya. Saya sangat terharu. Sambil mencium bayi saya berulang kali, saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkannya. Saya dapat merasakan seperti ada suatu kehidupan yang datang dalam tubuh anak saya. Puji Tuhan! Selama ini saya sudah menunggu akan kesembuhannya dan hari ini saya percaya anak saya, Petrus sudah disembuhkan!

Saat doa kesembuhan saya maju ke depan, saya semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus hadir dalam acara kebaktian tersebut dan Dia ingin menyembuhkan anak saya. Dengan satu keyakinan saya maju ke depan untuk minta didoakan anak saya.

Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya kembali dinyatakan, tiba-tiba anak saya dapat menangis dengan kencang, dengan teriakan suaranya yang melengking dengan jelas. Sebelumnya dia menangis dengan tanpa teriakan ataupun tanpa bersuara apa-apa. Sekali lagi saya memeluknya erat-erat dengan rasa syukur yang sangat dalam karena perubahan yang saya lihat begitu nyata. Saya bersyukur karena Tuhan Yesus menyembuhkan anak saya malam ini.

Sesudah kebaktian ada seorang dokter yang memeriksa anak saya, hasilnya adalah :
Respon mata anak saya sudah baik / dari respon cahaya dan gerakan bola mata lebih   membaik
Paru-parunya sudah mulai membaik
Jantungnya berdetak dengan baik
Biasanya sehari ngompol 15 kali tetapi hari ini anak saya hanya 3 kali kencing
Setiap makan dan minum yang masuk selalu dimuntahkan tetapi hari ini dia makan dan minum dengan lahap
Semua hasil pemeriksaan dokter tersebut menunjukkan bahwa kerja otaknya sudah mulai membaik dan normal. Puji Tuhan! Anak saya sudah sembuh. Semua karena anugerah Tuhan Yesus!

Sampai dengan tanggal 21 Mei 2004, Petrus masih tetap sembuh. Sekarang berat badannya telah bertambah dari 6 kg menjadi 10 kg. Dulu minum susu baru ½ botol sudah muntah tetapi sekarang 3 botol Petrus dapat menghabiskan, demikian juga dengan makanan yang ia makan, tidak ada yang ditolaknya, seperti : agar-agar, roti, chiki dan sebagainya.
Sungguh saat ini Petrus benar-benar dalam keadaan yang telah sehat. Puji Tuhan! Tuhan sangat baik buat saya dan anak saya. Saya mengucap syukur atas segala yang telah dilakukan pada anak saya, Petrus.