Kemuliaan bagi nama Tuhan yang telah melakukan perbuatan yang ajaib dalam hidup saya. Tak pernah dikecewakanNya ketika umatNya datang berharap kepadaNya.Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak. Saya tinggal di Wonogiri.

Pada hari Minggu bulan Oktober 2003, sepulang dari Gereja, tiba-tiba saya merasa kesemutan mulai dari ujung jari tangan kiri sampai ke ujung kaki kiri saya. Tangan kiri saya melengkung ke dada dan kaku, saya sulit berbicara dan tidak bisa berdiri karena tubuh terasa lemas, terasa seperti tidak ada tulangnya. Saudara saya, kemudian,membawa saya ke salah satu rumah sakit di Wonogiri.

Dokter mengatakan, bahwa saya menderita sakit stroke. Saya dirawat selama lima hari serta diberi tiga jenis obat. Karena saya tidak mengalami perubahan, maka saya dibawa pulang ke rumah.Setelah dua hari berada di rumah, seorang tetangga saya menyarankan saya untuk memeriksakan diri ke seorang dokter Spesialis Syaraf. Dokter itu mengatakan, bahwa saya menderita stroke dan mengusulkan agar saya dirawat inap di RS. Setiap hari, saya juga harus diinfus dan selama dirumah sakit saya sudah menghabiskan 6 botol infus. Saya menjalani terapi untuk melatih kaki saya dengan cara belajar berjalan sementara dokter memegang kain yang melilit tubuh saya. Terapi ini sama seperti yang dilakukan oleh seorang ibu yang melatih anaknya yang baru mulai berjalan dengan cara melilitkan kain pada tubuh anaknya. Tetapi, baru 3 – 5 menit belajar berjalan, saya sudah merasakan sakit pada bagian kiri tubuh saya, sehingga saya memutuskan untuk tidak melanjutkan terapi tersebut. Selama sembilan hari saya dirawat di RS. Pada malam terakhir di RS,saya melihat sesosok tubuh putih besar yang sedang memandang saya dari balik tirai jendela. Karena tidak dapat berjalan, maka saya meminta suami saya untuk mendorong kursi roda saya ke jendela tersebut. Setelah mendekati jendela, saya tergerak untuk mencoba berdiri, lalu berjalan. Puji Tuhan ! Saya bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih.

Sepulang dari RS, saya sudah dapat berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Tetapi, tubuh bagian kiri, mulai dari kepala, leher sampai ke kaki, menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan Jari-jari tangan kiri melengkung ke dalam dan leher tidak dapat digerakkan ke kiri’ Apabila saya memaksakan leher saya untuk menengok ke kiri, maka terasa kaku dan sakit sekali. Akibatnya, saya tidak dapat tidur dengan posisi miring ke kiri. Tangan kiri saya tidak dapat diangkat melebihi bahu. Saya tidak dapat melakukan kegiatanapapun, untuk makan dan minum saja saya harus dibantu orang lain. Saya merasa tersiksa dan semakin berseru kepada Tuhan. Saya terus berharap dan berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan saya tahu hanya Tuhan yang sanggup menyembuhkan saya !

Pada bulan Desember 2004, adik saya dan suaminya datang ke Wonogiri karena ada urusan keluarga. Mereka menceritakan tentang KPPI (Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi) yang diadakan di Jakarta dan mendengar itu saya sungguh rindu untuk datang ke KPPI. Suami saya mengizinkan saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara KPPI. Saya ingin segera sembuh.

Pada tanggal 04 Januari 2005, saya datang ke Jakarta dengan tujuan ingin menghadiri acara KPPI. Saya tinggal di rumah adik saya. Tidak banyak kegiatan yang dapat saya lakukan. Bahkan, untuk keperluan pribadi saja, seperti menyisir rambut, memakai baju, ke kamar mandi, dan lain-lain, saya harus dibantu oleh adik saya. Selama menantikan acara KPPI, saya terus berdoa dan banyak membaca Alkitab serta buku-buku rohani.Saya merasa, bahwa sekaranglah saatnya saya mengalami kesembuhan. Kehausan akan kuasa Tuhan terus ada di dalam diri saya. Pada saat doa pagi menjelang acara KPPI, saya mengalami pengalaman rohani yang mengesankan : mulut saya terus menerus memuji dan menyembah Tuhan sampai tubuh saya terasa bergetar dan sukacita dari Tuhan mengalir di dalam hati saya.

Pada hari Kamis, 13 Januari 2005, saya datang ke acara KPPI dengan hati yang berharap sungguh-sungguh untuk mendapatkan kesembuhan dari Tuhan. Pada saat puji-pujian,saya merasa ada sesuatu yang terlepas keluar dari kepala, leher sampai kaki saya. Saathamba Tuhan bertanya, “Siapa yang disembuhkan Tuhan dari sakit leher sebelah kiri?”,maka saya segera mengangkat tangan saya sambil menggerakkan-gerakkan leher saya dari kanan ke kiri, berulang-ulang kali. Puji Tuhan ! Leher yang tadinya kaku dan terasa sakit bila digerak-gerakkan, sekarang, sudah sembuh ! Saya bisa berjalan dengan normal serta dapat naik turun tangga tanpa bantuan orang lain. Tangan kiri saya sudah dapat diangkat tinggi-tinggi dan jari-jari tangan kiri saya tidak melengkung ke dalam lagi !

Haleluya. .. kemuliaan bagi nama Tuhan!

Saya sangat bersyukur atas mujizat yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup saya. Dia sangat baik bagi saya. Tuhan menjawab apa yang menjadi kerinduan saya selama ini,sehingga perjalanan jauh yang harus saya tempuh dari Wonogiri ke Jakarta tidaklah sia-sia.

Saya akan menceritakan mujizat kesembuhan ini kepada keluarga dan tetangga saya di Wonogiri, Supaya nama Tuhan dipermuliakan.