Pada bulan Mei 2004, penyakit asma yang diderita suami saya kambuh, sehingga ia harus diopname di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Pusat. Ia menempati sebuah kamar dilantai 4, sedangkan tempat pengambilan obat ada di lantai dasar. Akibatnya, saya harus sering naik turun tangga untuk mengambil obat tersebut. Pada suatu hari, ketika saya sedang menjagai suami saya di RS, saya mulai merasa nyeri pada lutut kiri saya.
Rasa nyeri itu semakin bertambah setiap kali saya berjalan dan naik turun tangga.
Lama kelamaan, lutut kiri saya mulai membengkak dan berwarna kemerah-merahan.
Satu minggu kemudian, saya mencoba berobat ke tukang urut, karena saya berpikir mungkin ada urat syaraf di lutut kiri yang keseleo. Tetapi setelah diurut, lutut kiri saya tidak juga sembuh.
Tukang urut itu mengatakan, bahwa saya mungkin menderita asam urat dan menyarankan saya untuk pergi ke seorang dokter spesialis di daerah Depok.

Akhirnya, saya pergi ke dokter tersebut dan dokter menduga saya menderita asam urat. Saya diberi obat seperti teh dal am bentuk sachet yang harus diminum selama 2 minggu. Obat ini membuat saya buang air terus menerus, seperti orang diare, sehingga diharapkan berat badan saya akan berkurang. Temyata, setelah minum obat tersebut selama 2 minggu berturut-turut, berat badan saya memang berkurang, tetapi sakit pada lutut saya sama sekali tidak berkurang.

Seminggu setelah tidak ada perubahan pada lutut kiri saya, suami saya menyarankan saya untuk kembali memeriksakan diri ke seorang dokter di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Pusat.
Berdasarkan hasil rontgen, dokter mengatakan, bahwa saya menderita radang sendi pada lutut kiri (Osteoarthritis) yang menyebabkan lutut saya terasa sakit bila dipakai jalan atau bergerak, apalagi jika harus naik turun tangga.Selanjutnya, dokter itu menjelaskan kepada saya, bahwa penyakit osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif adalah penyakit yang menyerang sendi-sendi penopang tubuh, misalnya lutut. Penyebabnya adalah rusaknya jaringan tulang rawan pelindung (kartilago) yang menutupi /melingkari ujung-ujung tulang pada daerah persendian.
Kerusakan kartilagomengakibatkan dua tulang saling bergesek, sehingga menimbulkan rasa nyeri, bengkak dan kaku. Penyakit ini kebanyakan menyerang orang-orang yang berusia 40 tahun keatas, mempunyai berat tubuh yang berlebihan (kegemukan), dan lain-lain.Penyakit ini tidak dapat disembuhkan secara total.
Pengobatan yang dilakukan hanya berfungsi untuk mengurangi rasa sakit. Mendengar hal tersebut, saya menjadi sangat cemas.
Penyakit yang saya derita ini mengingatkan saya pada kakak saya di Medan. Iapun menderita penyakit yang sama dengan saya pada ke dua kakinya selama 10 tahun. Kini,ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.
Sesuai dengan saran dari dokter, saya harus melakukan beberapa hal, yaitu :

1.Fisioterapi untuk mencegah sendi-sendi menjadi kaku. Saya menjalani fisioterapi 2 kali seminggu selama lebih dari 5 bulan

2. Dua minggu sekali, saya haras pergi ke sebuah RS di Jakarta Pusat untuk menjalani beberapa latihan ringan. Contoh : saya haras mengendarai sepeda statis (sepeda yang sering ditemui di fitness centre) untuk mengurangi rasa sakit akibat peradangan pada sendi, menggerak-gerakkan kaki saya ke atas dan ke bawah sambil mengangkat beban untuk merangsang kaki saya agar bergerak

3.Menurunkan berat badan saya dari 73 kg menjadi 65 kg, agar sesuai dengan tinggi badan saya yang hanya 165 cm. Saya berasaha menurunkan berat badan saya dengan cara senam dan mengurangi makan. Setiap hari, saya hanya makan kentang, labu, wortel dan beberapa macam juice buah. Usaha saya membuahkan hasil. Dalam waktu satu bulan, berat badan saya turun 10 kg

4.Minum susu yang mengandung kalsium untuk menguatkan tulang

5.Tidak boleh makan makanan yang mengandung kolesterol yang tinggi

6.Tidak boleh makan berlebihan, supaya berat badan saya tidak bertambah. Karena, semakin gemuk tubuh saya, semakin berat pula beban lutut saya untuk menanggung tubuh saya yang gemuk itu. Akibatnya, lutut kiri saya akan terasa semakin sakit

Saya merasa, bahwa saya telah melakukan semua saran dokter sekuat kemampuan saya. Tetapi rasa sakit itu tidak kunjung hilang, bahkan semakin lama semakin hebat. Saya tidak tahan duduk atau berdiri lama. Saya tidak dapat berjalan jauh. Tiap kali menaiki tangga, saya haras bergerak dengan sangat perlahan sambil berpegangan erat pada pegangan tangga. Hal ini sangat mengganggu aktivitas saya sehari-hari dan merisaukan hati saya.

Setiap bangun pagi, sesudah membaca Alkitab bersama suami saya, maka saya selalu bersera kepada Tuhan, ’’Tuhan, tolong berkati dan sembuhkan saya !” sebelum saya menjejakkan kaki saya ke lantai. Namun,….. nyeri yang hebat kembali menyerang lutut saya, walaupun saya sudah berasaha berjalan pelan-pelan. Saya merasa begitu tersiksa dengan rasa sakit yang saya alami.

Akhimya, pada suatu hari, seorang hamba Tuhan datang ke rumah saya dan memberikan undangan KPPI.

Pada tanggal 27 Januari 2005, saya datang ke KPPI dengan lutut kiri yang bengkak, nyeri dan sakit. Perjalanan yang cukup jauh dengan mobil angkot menambah rasa sakit pada lutut saya. Namun, selama acara KPPI, saya merasakan sukacita mengalir dalam hati saya.Saat tantangan doa kesembuhan, hamba Tuhan yang berdiri di panggung mengatakan, ’’Barangsiapa yang menderita sakit, bangkit berdiri dan maju ke depan !”, maka pada saat itu juga saya bangkit berdiri.Tiba-tiba, ketika saya akan berjalan ke

depan, saya menyadari bahwa lutut kiri saya sudah tidak terasa sakit lagi. Luar biasa ! Saya mencoba untuk berlari-lari di tempat dan memang benar lutut kiri saya sama sekali tidak terasa sakit lagi. Haleluya ! Saat itu juga, saya tahu bahwa Tuhan Yesus telah menyembuhkan saya. Saya sangat bersyukur dan bersukacita. Tuhan Yesus Ajaib, Dia sungguh baik. Sepulang dari KPPI, semua rasa nyeri dan pembengkakan pada lutut kiri saya telah lenyap ! Saya sudah bisa naik turun tangga dan berjalan jauh tanpa merasa sakit sama sekali. Puji Tuhan ! Saya telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus.