Saya seorang bapak yang memiliki 3 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Saya bekerja membuat kerajinan tangan yaitu sendal,awalnya saya mengambil limbah dari pabrik sandal yang dibuang dan masih bagus, saya ambil lalu saya bawa pulang,dari sinilah saya sendiri mulai mencoba untuk menekuni membuat sandal selama 1 tahun.

Sandal yang saya buat sebanyak 10 pasang sehari.Bila ada pesanan khusus, misalnya hari Raya, saya bekerja bisa sampai pkl. 02.00 pagi, sandal yang saya buat bisa sampai 20 pasang. Saya sangat senang sebab jenis sandal saya banyak disukai orang. Lalu menantu saya mulai tertarik juga dan akhirnya pembuatan sandal ini jadi usaha keluarga kami.

 Awal bulan Mei 2003, saya bangun tidur lalu mandi, tiba-tiba mata saya terasa seperti ada mendung, jika melihat orang tidak jelas siapa dia.Saat itu saya berpikir mungkin mata saya kena kotoran/debu, saya mengobati mata saya dengan obat mata “INSTO” selama 2 x, pagi dan malam selama 1 bulan. Sejak itu produksi sandal saya mulai menurun biasanya 10 pasang menjadi 5 atau 6 pasang sehari.

Saya tidak berani naik motor lagi, sebab jika kena sinar matahari atau sorot lampu mobil mata saya jadi gelap sekali, sehingga kemana saya pergi saya diantar oleh anak saya.

 Setelah memakai obat mata belum juga sembuh mata saya lalu saya memeriksakan mata saya ke RS Tarakan di daerah Roxy. Pemeriksaan mata yang saya jalani, yaitu saya di tes dengan membaca huruf tertentu dari jarak 1 meter sampai 10 meter, tetapi pada Jarak 6 meter saya sudah tidak membaca huruf karena seperti ada kabut. Dari hasil pemeriksakan dokter mengatakan bahwa saya menderita sakit katarak yaitu kedua lensa mata saya mengalami kerusakan.Dokter menyarankan agar saya menjalani operasri mata. Saya menolak untuk dioperasi karena biaya yang mahal serta takut karena banyak juga yang gagal dioperasi.

Bulan Juni 2003, seorang murid HMC bersama hamba Tuhan yang datang ke rumah saya. Mereka mengundang dan mengajak istri saya yang sakit pinggang dan saya sakit mata katarak untuk datang ke acara KPPI. Saya datang dalam keadaan kedua mata saya berair, kelihatan gelap jika saya melihat benda dan kepala terasa pusing sekali. Saya datang dengan hati yang penuh harapan saya pasti sembuh. Saat puji-pujian, saya merasa begitu sedih, saya bengong saja karena saya tidak bisa melihat apa-apa. Saat Firman Tuhan disampaikan saya semakin beriman bahwa Tuhan pasti menyembuhkan mata saya pada saat doa kesembuhan saya maju ke depan dan didoakan oleh hamba Tuhan.Selesai didoakan saya mulai dapat melihat tetapi masih terlihat ada kabut.

 Namun demikian saya tidak pernah putus asa. Saya secara rutin tetap datang ke acara KPPI dan saya selalu mendapat kekuatan baru. Semenjak datang ke acara KPPI saya sudah tidak pernah memeriksakan mata saya ke dokter lagi. Saya hanya percaya bahwa Tuhan Yesus pasti menyembuhkan saya.

Saya tidak pernah membaca sama sekali karena tulisannya tidak kelihatan. Saya tidak kuatir dan saya tetap terus bekerja hanya siang hari saja. terkadang  jika membuat pola saya menggaris dengan kapur yang berwarna putih dan dalam jarak yang dekat 20 cm dengan menggunakan 2 buah lampu neon yang terang sekali.Sebelum sakit mata katarak ini  saya bisa langsung menggaris dan melubangi setiap bagian dengan tanpa gangguan apapun dengan posisi duduk seperti biasa orang kerja, tidak perlu kapur berwarna putih.

Pada saat mata menjadi gelap, saya tidak bisa membuat sandal pada malam hari walaupun dengan menggunakan lampu neon terang maka mata saya jadi silau. Saya juga tidak bisa jalan malam hari. Jika berjalan pelan-pelan sambil meraba-raba atau dituntun dengan orang-orang yang ada di rumah. Mata menjadi bcrkabut, saya tetap bekerja membuat sandal dengan cara bantuan kapur berwarna putih.

Pada tanggal 08 Maret 2005 ada hamba Tuhan yang datang ke rumah untuk mengundang sekaligus mengajak ke acara KPPl. Saya datang dalam keadaan mata saya tidak bisa dipakai untuk membaca, seperti ada kabut jika melihat orang. Pada saat Firman Tuhan disampaikan saya bertambah teguh dalam iman saya bahwa saya pasti sembuh. Ketika lagu “ He Touched Me., 0 He Touched Me….” dilantunkan, saya merasa begitu sedih lalu saya menangis karena sakit mata saya belum sembuh.

Saat itu hamba Tuhan berkata : “Siapa di antara saudara yang sakit mata buta sampai rabun ……maju ke depan, maka saya langsung maju ke depan dan didoakan. Saat doa kesembuhan saya maju ke depan untuk didoakan. Selesai didoakan saya disuruh mencoba membaca tulisan yang tertulis di secarik kertas, tetapi tulisan tersebut masih kelihatan samar-samar,kembali saya didoakan lagi. Kemudian saya disuruh mencoba membaca tulisan lagi Puji ‘l`uhan …l Saya bisa membaca tulisan tersebut dengan jelas. Mata saya sudah sembuh.

Saya bersyukur kepada Tuhan atas mujizat kesembuhan yang telah diberikan bagi saya.Saya telah menyilksikan kesembuhan yang saya alami kepada keluarga’ tetangga dan para kenalan saya.Sekarang saya dapat bekerja kembali tanpa gangguan mata. Tuhan Yesus sungguh baik buat saya. Amin.