Iswahyudi : Sembuh Dari Penggumpalan Darah di Otak

Berikut ini kita akan menyaksikan sebuah kesaksian kesembuhan yang dialami oleh Iswahyudi.

Pada tahun 2001, saya bermain sepak bola dengan teman-teman. Secara tidak disengaja, pada saat saya mau menyundul bola, kepala saya terbentur dengan kepala teman saya yang menyebabkan kepala saya menjadi pusing. Untuk kedua kalinya, kepala saya pusing ketika badan saya terdorong dan menyebabkan kepala saya terbentur pada tiang gawang. Selesai waktu istirahat setelah bermain bola, tiba-tiba saya merasa amat mual dan pusing yang menyebabkan saya jatuh pingsan.

Sejak saat itu saya sering pingsan karena pusing dan rasa sakit di kepala yang luar biasa. Pada saat saya merasa sangat kesakitan, maka untuk menghilangkan rasa sakit saya memilih beristirahat atau tidur. Tetapi selama tidur pun rasa sakit sangat terasa sekali. Bahkan bisa sangat berlebihan. Untuk menahan rasa sakit, saya sampai menggigit selimut atau bantal dan sebagainya. Penglihatan saya menjadi buram dan membuat saya sangat susah untuk membaca.

Pada bulan Januari 2004 kembali saya dibawa ke Rumah Sakit. Hasil dari pemeriksaan EEG saat itu memperlihatkan bahwa ada penggumpalan darah di otak. Dokter mengatakan bahwa penyakit saya tidak dapat disembuhkan dan akan bertambah parah.

Seseorang yang mengalami penggumpalan darah di otak disertai dengan gejala-gejala sebagai berikut : Hilangnya kesadaran sesaat atau sering pingsan, sering muntah- muntah, kondisi mata yang tidak dapat melihat dengan jelas, pusing di kepala akibat defisit neurologis atau gangguan saraf otak.

Saya terus melakukan berbagai cara untuk lebih dekat dengan Tuhan. Saya terus memohon dan berdoa kepadaNya agar saya diberi kesembuhan.

Suatu hari, pada saat sedang berdoa, saya mendengar suara Tuhan Yesus berkata bahwa semangat saya untuk percaya kepada Tuhan Yesus itulah yang dapat menyembuhkan saya dari rasa sakit ini.

Pada tahun 2005, untuk pertama kalinya saya datang ke KPPI (Kebaktian Pujian & Penyembuhan Ilahi) dalam kondisi kepala masih terasa pusing dan tubuh saya terasa lemah. Pada saat kebaktian saya merasakan satu kedamaian. Setelah didoakan, pusing saya hilang dan mata saya dapat melihat dengan terang dan jelas. Puji Tuhan! Tuhan Yesus Kristus menyembuhkan saya pada malam hari itu.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena atas kebesaranNyalah, Dia menyembuhkan saya dari sakit pusing yang saya derita selama empat tahun. Sekarang saya dapat beraktivitas kembali seperti semula dan melakukan kegiatan sehari- hari.

Kemuliaan hanya bagi Tuhan.

SHARE