{"id":4083,"date":"2015-06-13T23:44:31","date_gmt":"2015-06-13T23:44:31","guid":{"rendered":"http:\/\/kppi.or.id\/?p=4083"},"modified":"2015-06-13T23:44:31","modified_gmt":"2015-06-13T23:44:31","slug":"jenny-mariana-pasaribu-34-sembuh-sakit-kanker-empedu-kppi-medan-22-november","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kppi.or.id\/?p=4083","title":{"rendered":"Jenny Mariana Pasaribu : Sembuh Sakit Kanker Empedu"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"4083\" class=\"elementor elementor-4083\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-508b38a2 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"508b38a2\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-2c66c967\" data-id=\"2c66c967\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-24cb97d6 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"24cb97d6\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<p><a href=\"http:\/\/kppi.or.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/Jenny-Mariana-Pasaribu_3.png\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4089\" src=\"http:\/\/kppi.or.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/Jenny-Mariana-Pasaribu_3.png\" alt=\"Jenny Mariana Pasaribu_3\" width=\"443\" height=\"356\" \/><\/a><br \/>Nama saya Jeni Mariana Pasaribu, umur saya 34 tahun. Saya dan suami saya telah dikaruniai 3 orang anak. Saya bekerja di salah satu rumah sakit di Medan bagian administrasi.\u00a0<\/p><p>Pada tanggal 25 Agustus 2010 saya mengalami mual, tidak selera makan, esok harinya tiba-tiba saya terjatuh di rumah sakit tempat saya bekerja. Saya dibawa di IGD untuk dirawat dan diobservasi. Setelah itu saya disuruh pulang. Keesokan harinya saya kembali dibawa ke RS dan saya diopname. Menurut hasil dokter sementara saya mengidap penyakit maag. Keesokan harinya saya pulang dan kembali bekerja di RS.\u00a0<\/p><p>Saya masih penasaran terhadap penyakit yang saya derita. Kemudian saya melakukan USG sesuai arahan dokter. Ternyata ada batu di empedu sebesar 3 mm. Dokter menganjurkan agar saya dioperasi.<\/p><p>Pada tanggal 30 Agustus 2010 saya masuk rumah sakit dan pada tanggal 31 Agustus 2010 jam 09.00 WIB saya dioperasi. Setelah itu saya harus dibawa ke ruang ICU karena\u00a0 dokter mengatakan bahwa empedu saya sudah infeksi dan bernanah. Jika nanahnya itu ditampung dan ditaruh dalam wadah kecil maka sebanyak setengah mangkuk bakso. Empedu saya juga sudah diangkat. Kemudian saya dibawa ke ruang rawat.\u00a0 Empedu yang diangkat dibawa ke laboratorum untuk dilakukan tes Patologi Anatomy (PA).\u00a0\u00a0<\/p><p>Lima hari kemudian\u00a0 hasilnya keluar dan dinyatakan bahwa\u00a0 saya mengidap penyakit kanker empedu\u00a0 ganas. Hati saya sangat sedih mendengarnya. Suami dan keluarga saya juga sangat sedih dan menangis mengetahui saya terkena penyakit kanker. Tetapi saya tetap berusaha kelihatan kuat. Dari luar saya terlihat kuat tapi sebenarnya hati saya amat hancur.\u00a0<\/p><p>Saya ucapkan dalam doa saya, \u201cTuhan, itu bukan hasil saya.\u201d Saya masih penasaran dan saya diperiksa kembali oleh dokter.\u00a0 Ternyata memang betul saya terkena kanker ganas. Sesudah dua minggu dirawat di rumah sakit\u00a0 sayapun pulang ke rumah.\u00a0 Selama dua hari di rumah\u00a0 badan saya berubah menjadi kuning.\u00a0 Mata saya juga menjadi kuning, warnanya seperti kunyit. Kemudian saya dibawa ke klinik terdekat. Di sana saya hanya dirawat selama lima jam, lalu dirujuk kembali ke rumah sakit yang ada di Medan Timur. Setelah dua hari saya dirawat di rumah sakit itu bekas operasi empedu saya mengalami kebocoran. Keluar\u00a0 banyak cairan dari empedu saya dan keluar melalui lubang di perut bekas operasi.\u00a0<\/p><p>Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, dokter memeriksa saya kembali dan mengatakan, \u201cKita akan melihat kembali kondisi Ibu ini. Jika dia bisa bertahan seminggu ini maka itu merupakan mujizat dan itu karena semangat Ibu ini.\u201d<\/p><p>Setelah dua minggu di rumah sakit mata saya kembali berubah menjadi putih tapi keadaan saya sangat memprihatinkan. Saya sulit berbicara, makan pun harus dari selang.\u00a0 Badan dan kuku saya hancur.\u00a0<\/p><p>Selama dirawat di rumah sakit, banyak keluarga dan rekan kerja saya datang menjenguk saya. Setiap kali mereka melihat kondisi saya, maka banyak diantara mereka mengatakan, \u201cTidak ada lagi harapan.&#8221; Saya dirawat di rumah sakit selama empat bulan.<br \/><a href=\"http:\/\/kppi.or.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/Jenny-Mariana-Pasaribu_1.png\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4085\" src=\"http:\/\/kppi.or.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/Jenny-Mariana-Pasaribu_1.png\" alt=\"Jenny Mariana Pasaribu_1\" width=\"453\" height=\"352\" \/><\/a><br \/>Di bulan ke sepuluh kondisi saya semakin gawat.\u00a0 Saya mengalami koma, sudah tidak bisa lagi berbicara, bahkan untuk bernafas sudah satu-satu. Dokter\u00a0 angkat tangan dan mengatakan, \u201cSudah tidak bisa lagi diobati.&#8221;\u00a0 Umur saya divonis tinggal satu minggu lagi. Kalau saya bisa bertahan dalam seminggu, itu berarti saya sudah termasuk cukup kuat. Mendengar hal itu, saya menangis dan berdoa.\u00a0<\/p><p>Selama ini saya rasakan kalau saya berdoa selalu setengah-setengah, sembilan puluh persen percaya kepada Tuhan dan sepuluh persen kepada dokter. Ternyata Tuhan tidak menghendaki saya hanya percaya sembilan puluh persen. Tuhan mau saya seratus persen percaya kepada Dia.\u00a0<\/p><p>Saya ingat firman Tuhan, \u201cMintalah maka kamu akan diberi. Berserulah maka engkau akan dijawab.&#8221; Maka saya minta kepada Tuhan suatu kesembuhan. Saya berseru kepada Tuhan, \u201cTuhan saya minta kesembuhan!\u201d Saya juga memperkatakan firman Tuhan. Saya ingat wanita pendarahan 12 tahun yang berkata, \u201cAsal kujamah saja jubahNya maka aku akan sembuh.&#8221;\u00a0 Saya menutup mata dan membayangkan Tuhan Yesus turun dari langit, lalu saya pegang jubahNya. Karena Tuhan\u00a0 tidak pernah berubah, dulu, sekarang, dan selamanya. Saya berkata kepada Tuhan, \u201cTuhan, aku pegang jubahMu, aku pegang jubahMu, dan aku sembuh.\u201d<\/p><p>Keesokan harinya keadaan saya semakin gawat dan langsung dibawa ke ruang ICU. Selama lima hari saya tidak sadarkan diri. Orang menganggap saya sudah mati, tidak ada lagi harapan,\u00a0 karena semua alat sudah dipasang ke dalam tubuh saya. Akhirnya saya sadar dan datanglah hamba\u00a0 Tuhan dari CWS yang juga\u00a0 tim HMC (Healing Ministry Course) untuk\u00a0 mendoakan saya. Saat itu kondisi saya masih lemah dan belum bisa bicara.<\/p><p>Pada tanggal 20 November 2010, datang beberapa hamba Tuhan\u00a0 mendoakan saya dan saya diajak untuk datang ke acara KPPI di gereja. Sebelumnya keluarga saya sempat membicarakan mengenai penguburan saya, akan dikubur di mana nanti jika saya meninggal. Itulah salah satu yang dibicarakan oleh mertua dan paman dari suami saya. Hati saya begitu sedih mendengar mereka membicarakan hal itu.\u00a0 Lalu saya menuliskan di kertas, \u201cSaya masih bernafas.\u201d Mereka juga mengatakan kepada suami saya agar suami saya jangan kawin lagi.\u00a0 Kemudian saya menuliskan, \u201cSaya masih bernafas, jangan bilang kawin.\u00a0 Saya masih bernafas, jangan bilang mau di kubur.\u201d<\/p><p>Ibu saya bilang, \u201cMate do ho inang?\u201d (bahasa Batak). Kemudian saya\u00a0 menuliskan di kertas, \u201cMa, saya tidak mati, saya masih bernafas. Saya masih ada harapan untuk hidup.\u201d Melihat kondisi saya, keluarga saya menganggap bahwa saya sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi pada saat itu justru saya yang menguatkan keluarga saya.<\/p><p>Tanggal 22 November 2010, saya diajak menghadiri KPPI di gereja saya. Pada saat puji-pujian saya sudah merasakan kuasa Tuhan. Pada saat datang saya belum bisa berdiri ataupun berjalan. Saya datang dengan menggunakan kursi roda, tapi pada saat puji-pujian saya mulai dapat berdiri dan berjalan. Saya sungguh merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam diri saya.\u00a0<\/p><p>Sepulang dari KPPI di gereja CWS Medan, saya kembali pulang ke RS. Saat di rumah sakit saya merasakan kaki saya kembali tidak bisa berjalan. Bahkan keesokan harinya dokter juga sempat mengatakan agar saya pulang ke rumah saja. Memberitahukan kepada suami saya\u00a0 agar saya diberi makanan yang enak-enak di rumah. Suami saya sempat berpikir berarti umur saya tidak lama lagi.\u00a0<\/p><p>Pada tanggal 27 November 2010 saya dibawa pulang ke rumah. Di rumah keadaan saya tetap sakit dan dari empedu saya terus mengalir cairan.\u00a0 Pada saat itu keuangan keluarga saya juga mengalami krisis. Setiap hari saya menghabiskan uang sebanyak Rp.50.000, hanya untuk membeli kassa dan plester bahkan di tempat saya bekerja saya pun dipecat karena sudah lama saya tidak masuk kerja.\u00a0<\/p><p>Pada saat kondisi\u00a0 seperti itu saya terus bersyukur kepada Tuhan untuk suami saya karena dia selalu mendukung dan menyayangi saya dalam kasih Tuhan. Walaupun kondisi saya lemah dan wajah saya kurus dan kelihatan sangat tua, suami saya tetap sayang kepada saya. Dia tidak malu dengan keadaan diri saya.<\/p><p>Sekalipun di rumah tidak bisa berjalan dan tubuh saya lemah, saya tetap berdoa dan membaca Alkitab. Saya menangis di hadapan Tuhan dan memohon kepadaNya agar saya diberikan panjang umur.<\/p><p>Pada bulan Januari 2011, dengan iman saya membuang semua obat yang diberikan oleh dokter.\u00a0 Saya berpikir obat ini tidak menyembuhkan saya. Saya hanya mau berdoa dan memegang janji Tuhan melalui firmanNya. Saat itu saya mulai mengalami perubahan.\u00a0 Saya sudah mulai dapat berdiri namun masih harus menegang tembok. Namun untuk membuang air kecil harus berdiri dan belum bisa duduk. Luka di bagian perut akibat operasi juga mulai tertutup sedikit.<\/p><p>Awal bulan Februari 2011, saya sudah bisa berdiri dan berjalan ke kamar mandi tanpa memegang tembok.\u00a0 Di pertengahan bulan Februari 2011 saya sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Di akhir bulan Pebruari 2011\u00a0 lubang di perut bekas operasi sudah mulai tertutup tinggal sedikit lagi sebesar lubang jarum dan masih sedikit keluar cairan.\u00a0 Saya sudah bisa berdiri dan duduk sendiri tanpa dibantu orang lain.\u00a0<\/p><p>Di awal bulan Maret 2011 lubang bekas operasi sudah tertutup rapat dan sudah tidak keluar cairan lagi. Saya sudah bisa berjalan dengan cepat.\u00a0Di awal bulan April 2011 saya sudah bisa berlari, menggendong anak saya,\u00a0 memasak dan mengepel lantai. Saya sudah disembuhkan secara total.\u00a0<\/p><p>Puji Tuhan,\u00a0 pada bulan Mei 2011 saya diterima kembali di tempat kerja saya yang lama setelah sebelumnya saya sempat dipecat.\u00a0\u00a0<\/p><p>Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan atas karunia yang diberikan kepada saya. Saya rindu untuk melayani Tuhan untuk membalas semua kebaikan yang Tuhan sudah berikan kepada saya.\u00a0 Haleluya !!\u00a0<\/p><p>\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-0bbf47d elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"0bbf47d\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-7c23378\" data-id=\"7c23378\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-c6f96fa elementor-widget elementor-widget-video\" data-id=\"c6f96fa\" data-element_type=\"widget\" data-settings=\"{&quot;youtube_url&quot;:&quot;https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/watch?v=7UGHY-b6bLA&quot;,&quot;video_type&quot;:&quot;youtube&quot;,&quot;controls&quot;:&quot;yes&quot;}\" data-widget_type=\"video.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-wrapper elementor-open-inline\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-video\"><\/div>\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama saya Jeni Mariana Pasaribu, umur saya 34 tahun. Saya dan suami saya telah dikaruniai 3 orang anak. Saya bekerja di salah satu rumah sakit di Medan bagian administrasi.\u00a0 Pada tanggal 25 Agustus 2010 saya mengalami mual, tidak selera makan, esok harinya tiba-tiba saya terjatuh di rumah sakit tempat saya bekerja. Saya dibawa di IGD &hellip; <a href=\"https:\/\/kppi.or.id\/?p=4083\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Jenny Mariana Pasaribu : Sembuh Sakit Kanker Empedu&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4087,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4083","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-kesaksian-kesembuhan-2","post_format-post-format-video"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4083"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4083\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kppi.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}